Bulan Juli, seolah sudah menjadi tradisi bulan sibuk untuk orang tua yang memiliki anak usia sekolah, baik yang naik kelas ataupun yang baru masuk atau memasuki jenjang yang lebih tinggi. Bulan dengan hari-hari yang diisi dengan tawa ceria anak-anak yang bertemu dengan kawan baru atau tangisan mereka yang tidak terbiasa berpisah dengan orang tuanya, terlebih dengan ibunya.
Berbeda dengan anak-anak yang tertawa lepas dan ceria, keringat dingin dirasakan oleh sebagian orang tua ketika harus melengkapi kebutuhan putra-putrinya. Untuk yang masih memiliki barang berharga, harus direlakan berpindah tangan untuk selamanya atau “dititipkan“ untuk sementara waktu.
Diantara binar dan keceriaan yang saling bersahutan, ada beberapa pasang mata yang memandang dengan penuh harap. Apakah saya bisa seperti mereka? Seperti itulah mungkin batin mereka. Dengan penghasilan orang tua yang masih belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari, masih mungkinkah mereka merasakan keceriaan seperti teman-temannya yang lain?
Program sekolah gratis ternyata bukan solusi yang terintegrasi. Pembebasan biaya sekolah dan sumbangan-sumbangan lainnya, tetap tidak menghilangkan kebutuhan pokok lainnya. Buku tulis, alat tulis, sepatu sekolah, seragam, dan perlengkapan-perlangkapan kecil lain termasuk biaya transportasi sehari-hari berada jauh diluar program tersebut. Program inipun mendapat perlawanan dengan senjata bernama RSBI. Ibarat sebuah gerbang, sudah terkunci rapat untuk mereka yang orang tuanya tidak memiliki penghasilan yang layak. Mereka cukup berdiri disisi luar dan harus puas melihat teman-teman mereka bermain dan belajar ditempat yang sangat layak yang tidak akan sanggup mereka injak.
Ketika kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di tempat yang dianggap layak tidak sanggup lagi untuk digapai, lembaga pendidikan lain dengan fasilitas seadanya menjadi alternatif. Tetapi apakah cukup dengan kemauan lalu semuanya selesai? Ternyata belum. Seminim apapun kondisi dan fasilitas sekolah, siswa-siswinya tetap dituntut mengenakan pakaian seragam, yang tentunya harus dibeli. Mengenakan seragam seperti teman-temannya yang lain juga menjadi motivasi mereka untuk semangat belajar.
Ketika orang tua tidak lagi sanggup memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya, siapa yang bertanggung jawab? Pemerintah yang mendapatkan amanat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ternyata belum sepenuhnya sanggup memikul amanat secara utuh, harus ada dari kita yang harus menyelesaikan PR kecil yang tersisa. Satu PR tidak sanggup diselesaikan sendiri, bergotong royong solusinya. Masing-masing menyelesaikan bagian yang sesuai dengan kemampuannya. Siapkah Kita?
http://edi8586.wordpress.com/2011/07/12/pernik-pernik-pendidikan/